Apa yang kamu lakukan jika seseorang yang kamu sayangi, tiba-tiba melakukan hal yang jahat terhadap dirimu?
Apa kamu akan merasa marah? Apa kamu akan merasa jengkel? Apa kamu akan merasa menyesal telah menyayanginya?
Kalau itu pertanyaan yang kamu ajukan padaku maka aku akan menjawab “Aku tidak habis pikir, kenapa dia melakukan itu padaku. Pasti dia merencanakan dan melakukan kejahatan itu dengan susah payah. Mengeluarkan hampir seluruh energi dan kemampuannya untuk menjahatiku”
Orang yang kita sayangi, pasti tahu kalau kita menyayanginya. Orang yang kita hargai, pasti tahu berapa besar harganya di mata kita. Dan jika melakukan hal buruk pada kita, maka pastilah dia sudah memikirkan dengan matang apa yang dilakukannya.
Hubungan baik adalah sebuah harta berharga yang tidak semua orang bisa menemukannya. Beberapa orang merasa tercukupi kebutuhannya saat ini lebih bermakna dibanding menjaga sumber ketercukupan itu. Orang melabel pada orang seperti itu sebagai orang yang “ada maunya”. Cuma nongol kalau ada maunya, kalau maunya sudah tercapai… jangankan say goodbye, say thank you aja ga sempet banget.
Wai bilang ke saya kalau “orang seperti itu adalah orang yang melihat hidup secara 2 dimensi, I and Thou” Orang yang melakukannya cuma ada 2 pilihan hidup “aku atau kamu” Kalau kamu bahagia berarti aku tidak bahagia, karena aku mau bahagia berarti kamu HARUS tidak bahagia. Kira-kira begitulah rumus si 2 dimensi. Kalau ditaruh di hutan manapun, dia pasti survive. Bisa jadi raja hutan yang paling oke. Tapi sayangnya… we’re not living in the jungle, sweetheart… Kita hidup dalam kelompok sosial yang saling terhubung satu sama lain, jadi tolong HATI-HATI.
Orang yang menyayangi kita tetapi berbuat jahat pada kita, pastilah orang yang punya energi yang sangat besar untuk melakukan kejahatannya tersebut
Orang yang saya sayangi itu bersusah payah mengumpulkan barang bukti yang berserak satu demi satu di berbagai akun saya, mulai dari facebook, twitter, sampai halaman “rumah” saya ini. Hanya untuk membuktikan satu hal, bahwa saya SALAH dan dia BENAR.
Oh Good… setelah tahu saya salah dan kamu benar, apa yang akan kamu lakukan sayang? Apa keuntungan yang kamu dapatkan? Apa kamu meminta saya untuk tetap sayang kamu? Atau kamu minta saya buat LEBIH sayang ke kamu?
Kali ini D.re bilang ke saya “… karena kita tidak tinggal dalam dunia 2 dimensi, maka rasa kasih kita tidak bundar, tapi BULAT. Ya… bulat seperti bola, yang tidak memiliki sudut yang bisa membuat rasa kasih itu terpojok, dan itulah unconditional possitive regard – kasih tanpa syarat” Sebuah kasih tanpa syarat mengijinkanmu untuk berbuat kesalahan dan memperbaikinya saat kamu mengerti bahwa itu salah. Sebuah kasih tanpa syarat bersikap tegas terhadap kejahatanmu dan memaafkannya di waktu yang bersamaan. Sebuah kasih tanpa syarat menerimamu dengan tangan terbuka dan penuh pengharapan agar kau menjadi lebih baik lagi. Dan kau akan tahu bahwa hanya sebuah kasih tanpa syarat apapun yang bisa membuatmu bertahan hingga saat ini.
Wai dan D.re benar, mungkin saya terlalu sempit memandang kejahatan orang yang saya kasihi ini. Mungkin inilah saatnya kami melihat ke dalam diri masing-masing. Apakah saya memandangnya secara 2 dimensi? Ataukah rasa kasih saya masih bersudut dan belum membulat?
Wai dan D.re mengajari dua hal sekaligus yang menjadi bagian terpenting dalam rentetan perjalanan saya, hal baik yang membuat saya memperlebar jarak pandang dan memperluas jarak jangkau. Terimakasih…
