Sebelum kita membahas tentang adiksi, mari kita memulai bahasan dengan obat yang dapat menyebabkan adiksi. Sebenarnya saya juga bingung, mana yang harus dibahas duluan, tapi saya anggap membahas tentang obat-obatan atau zat yang dapat menimbulkan adiksi merupakan langkah awal untuk memahami dinamika kecanduan.

Pada bagian pertama ini, saya mengambil referensi dari buku TOKSIKOLOGI NARKOBA DAN ALKOHOL: Pengaruh Neorotoksisitasnya pada Saraf Otak, penulis DARMONO, penerbit UI-Press, dengan tahun terbit 2006. Jadi kalau ada teman-teman yang ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang toksikologi obat, bisa langsung baca buku ini, atau buku lain yang sejenis.

Berdasarkan definisi dalam buku ini, obat adalah suatu bahan yang berbentuk padat, atau cair, atau gas yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan fisik dan/atau psikologis pada tubuh. See…jadi berdasarkan definisi tersebut kita bisa langsung tahu kalau obat, apapun bentuknya, dan apapun jenisnya itu akan berpengaruh secara fisiologis dan psikologis (rasanya pengen nangis…teringat pada Mr. Wow). Obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat disebut obat psikoaktif, dan seringkali obat atau zat semacam ini menimbulkan adiksi atau kecanduan.

Berdasarkan efek yang ditimbulkan, zat atau obat yang dapat menimbulkan adiksi tersebut dibagi menjadi dua (plus satu)- soalnya di buku lain bilangnya cuma dua, di buku yang lain bilangnya ada 3, jadi saya ambil yang tengah-tengahnya, jadilah dua (plus satu) yaitu obat atau zat golongan depresan, golongan stimulan, plus golongan halusinogen.

Secara sepintas saja dari penggolongan tersebut kita bisa tahu bahwa efek dari obat atau zat bisa menimbulkan depresi, atau stimulasi, atau halusinasi. Beres kan… Tapi, demi keutuhan pengetahuan, maka selayaknya-lah kita mendapatkan informasi yang seutuhnya, tidak setengah-setengah. Maka dari itu, saya akan jelaskan satu per satu, siap ya… :D

Satu: Obat atau Zat Golongan Depresania- beberapa yang lain menyebutnya sebagai downers. Pantaslah kiranya jika disebut sebagai downers alias “penurun” karena memang zat ini berfungsi sebagai penghambat kerja sistem saraf pusat secara umum yaitu dengan mengurangi kepekaan kortek serebri (ada yang ingat tidak itu bagian otak yang mana??? Pasti saya tertidur waktu kuliah psikologi faal). Karena kepekaan berkurang, maka yang terjadi adalah kewaspadaan terhadap lingkungan menjadi berkurang, aktivitas dan reaksi spontan juga menurun. Obat atau zat yang termasuk downers yang bersifat sedative-hipnotik (alias membuat orang jadi tidak sadar bahkan sampai tertidur) antara lain: Ethanol (alkohol) Pantas saja jika bisa terjadi laka lantas saat sopir dalam keadaan mabuk… ; Barbiturate (kalo yang ini saya belum pernah liat wujudnya); Benzodiazepam (kalo yang ini mungkin saudaranya diazepam ya).  Sedangkan obat yang bersifat analgesic opioid (atau wajarnya kita bilang sebagai penghilang rasa nyeri-yang kemudian (lagi-lagi) disalahgunakan) antara lain: Morfin dan Kodein …itu dah sering banget ya kita denger, meskipun saya sendiri juga kurang tau wujud sebenarnya seperti apa .. . :D

Dua: Obat atau Zat golongan Stimulansia- bahasa canggihnya adalah uppers. Senada dengan namanya, obat atau zat yang tergolong stimulan atau uppers memiliki efek meningkatkan kerja sistem saraf pusat. Sebenarnya ada dua cara kerja dari stimulan atau uppers ini, yang pertama memblokade sistem penghambata; dan yang kedua meningkatkan perangsangan sinapsis. Secara bodoh – nya aja, uppers ini menimbulkan efek “giat” pada otak kita, orang yang sudah di”hantam” uppers bisa jadi tampak selalu siaga, penuh percaya diri, dan seringkali tidak dapat tidur.

Percaya atau tidak, menurut teman saya yang dulunya pernah menyalahgunakan zat jenis uppers, setelah mengkonsumsi obat atau zat ini, dia bisa tidak tidur selama 3 hari 3 malam dan melakukan kegiatan tanpa istirahat sama sekali. Karena dia Mr. Clubbing, jadi malam hari jingkrak-jingkrak di club dan siang hari dia habiskan buat beres-beres rumah mulai dari nge-pel sampai mindahin perabotan…tanpa istirahat!!!! :( saya..jadi trenyuh…

Obat atau zat yang tergolong stimulan sedang antara lain: Kafein dalam kopi, teh, atau soft drink; Efedrin digunakan untuk pengobatan asma (yang ini obat legal dan kadng bisa ditemukan di apotek dan dibeli dengan bebas sesuai resep dokter); nikotin dalam tembakau (kecuali bagi para perokok berat yang udah kebal dengan nikotin sehingga efek berubah menjadi downers….aneh…) Sedangkan obat atau zat yang bersifat stimulan kuat antara lain: Amphetamine- salah satu yang illegal adalah sabu; Kokain, baik yang berbentuk serbuk maupun crack (apa ya?..mmm semacam gula batu gitu kayaknya he he he); dan Ecstasy- nah kalau yang ini nama jalanannya bisa macem-macem, kalau mau tau secara detail bisa langsung tanya penjualnya aja :)

Plus: Obat atau Zat Golongan Halusinogen. Nah, kalau ini pasti sudah jelas bahwa zat atau obat ini bisa menimbulkan halusinasi. Untuk definisi halusinasi, secara tepatnya saya belum menemukan, tapi kurang lebih halusinasi dapat berarti sebagai keadaan dimana seseorang mendengar dan/atau merasakan sesuatu hal yang ternyata tidak ada. Pada efek yang lebih besar lagi, zat atau obat dalam golongan halusinogen dapat menyebabkan paranoid atau ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu yang seringkali tidak nyata.

Obat atau Zat yang termasuk golongan halusinogen antara lain: LSD (saya Cuma pernah denger namanya saja, wujudnya belum pernah saya lihat, nanti kalau saya sudah lihat saya kasih kabar deh :) ); Canabis termasuk di dalamnya bentuk serbuk, glondongan maupun resin :) he he he..kayaknya ndak ada ya ganja glondongan…mabok deh…; dan jenis jamur tertentu yang bisa menyebbkan halusinasi (cari penjual jamur ginian susah, yang jelas jamur macam gini ga dibudidayakan di Jejamuran :) )

Oke…inilah akhir dari bagian I, ada pertanyaan? :D