This is The Real Me

Jalan-jalan (lagi) di DJOGJA

Kapan terakhir kali Anda ke MALIOBORO ? Kurang dari setahun yang lalu? atau sudah bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di sana? Apa saja yang Anda dapatkan di sana?

Orang selalu mengaitkan Malioboro dengan kegiatan jual-beli. Pergi ke Malioboro artinya pergi belanja. Tidak hanya wisatawan yang berpikir begitu, bahkan orang Jogja pun berpikir demikian. Malioboro memang menjadi pusat  Jogja, barometer bisnis-nya Jogja.

Sebenarnya, banyak hal yang bisa didapatkan di MALIOBORO selain belanja, apalagi kalo bukan kepuasan jalan-jalan :). Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi jika ingin jalan-jalan, yaitu keikhlasan untuk berpikiran secara terbuka alias open minded. Tidak ada kesenangan jika Anda tidak membuka diri sebanyak-banyaknya pada sesuatu yang Anda anggap sebagai hal baru padahal itu tergolong hal yang udah lama.

Untuk mempertahankan antusisme terhadap hal-hal lama, kadang saya suka iseng. Misalnya saja kalo lagi jalan di MALIOBORO, paling tracknya kan itu aja kan ya… sekali-kali saya mencoba menghitung lampu jalan sepanjang malioboro, atau memperhatikan apa warna sebenarnya pagar istana negara 🙂 Jadi autis dikit lah… itu tips saya mempertahankan antusiasme. *Jadi berpikir, mungkin itu sebabnya anak-anak selalu tampak antusias ya, karena selalu menganggap semua hal adalah baru baginya*

SPOT yang paling saya sukai dan masih berhubungan dengan MALIOBORO adalah wilayah Nol Kilometer. Ada monumen serangan umum, benteng venderburg, istana negara, kantor pos besar, dan banyak lagi. Selalu ada hal baru di sana, nol kilometer merupakan salah satu tempat publik yang digunakan untuk media informasi, seni, dan kreatifitas yang silih berganti. Seperti misalnya ini:

WhoOoPpZz0056

Foto ini diambil saat merapi sedang aktif menyemburkan lahar. Salah satu komunitas seni bekerjasama dengan organisasi mahasiswa berinisiatif untuk mencari sumbangan dengan cara yang unik, yaitu dengan membuat celengan minta sumbangan   plus papan-papan peringatan yang diletakkan di wilayah nol kilometer.

WhoOoPpZz0052

Yang jelas, selalu ada sesuatu yang baru di Nol kilometer. kalau sekarang Anda mengunjungi wilayah nol kilometer, tepatnya yang berada di depan monumen serangan umum, Anda akan menemukan satu bungkus besar nasi kucing dengan menu RUUK DIY. Nasi bungkus itu sudah ada sejak sekitar satu bulan yang lalu, dan tidak akan pernah basi, karena (tentunya) itu adalah nasi bungkus yang ISTIMEWA.

So…don’t miss it!!! Bagi saya, Jogja akan selalu ISTIMEWA, karena sekecil apapun hal yang Anda temukan, selalu menjadi hal yang baru bagi Anda. Tidak akan pernah bosan berada di Jogja, percaya deh… 🙂

Jalan-Jalan di DJOGJA

Coba tebak...dimana ini?Coba tebak ini saya sedang di mana…. ? 🙂

Bener banget… saya sedang ada di TAMAN PINTAR. Pokoknya, siapa aja yang datang ke sana dijamin jadi tambah pintar deh.. :). Banyak mainan-mainan seru, ada rumah pohon (yang ini cuma buat anak-anak aja sih), pipa suara, kolam semburan air (sebuah kolam yang menyemburkan air secara berkala, jadi kita harus lari-larian dikejar airnya), dan maze (yang ini sedang dalam proses perbaikan), dan sayangnya lagi saya ndak punya fotonya :(.

Nah kalo yang di foto itu, saya sedang berada di depan GONG PERDAMAIAN NUSANTARA, di gong tersebut ada lambang 33 propinsi di Indonesia dan deklarasi perdamaian nusantara. Pokoknya kalau berada di depan gong jadi merasa bener-bener bersyukur menjadi anak Indonesia dan menyesal kenapa masih ada saja kerusuhan yang dikaitkan dengan SARA.

Yang saya ceritain tadi baru bagian depannya TAMAN PINTAR lho. Di belakang gong ada sebuah gedung yang bernama GEDUNG OVAL. Di dalam gedung tersebut ada banyak banget mainan ilmu pengetahuan, seperti rumah gempa, simulasi tsunami, atau bola listrik … kereeeeennn……

Bagian pamungkas yang membuat saya girang bukan kepalang adalah pemutaran film 3D. Ceritanya macam-macam, dan tentunya cocok banget ditonton anak-anak (saya aja masih seneng nontonnya… 😀 ). Waktu itu saya nonton tentang migrasi burung 🙂 he he he he

Gampang banget kalau mau ke TAMAN PINTAR, kalau sudah ada di MALIOBORO tinggal belok ke arah timur kurang lebih 200an meter. Buka dari Selasa hingga Minggu pukul 09.00 – 16.00 WIB (Hari Senin Tutup). Jadi bagi yang mau jalan-jalan ke Jogja atau yang sekarang sudah ada di Jogja, ayo segera kunjungi dan bersenang-senang di TAMAN PINTAR. Dijamin SERU !!! 🙂 soalnya yang saya ceritadin di atas itu baru sebagiannya aja, ada lebih baaaaaaanyyyaaakkk lagi yang bisa ditemukan dan dipelajari di sana.

fotonya saya ambil dari http://gudeg.net/id/directory/51/1146/Taman-Pintar-Yogyakarta.html

Nah… bagi yang sudah pernah ke TAMAN PINTAR, don’t worry… ada banyak banget tempat-tempat yang menyenangkan buat jalan-jalan di Jogja. Buat saya yang hobi banget jeng-jeng alias jalan-jalan, Jogja menjadi tempat yang tidak ada habis-habisnya buat dijelajahi (mungkin kalo saya sudah 50 tahun tinggal di sini, baru bosen kali ya…). Lain kali saya cerita-cerita lagi deh kisah perjalanan seru saya… 🙂

 

Help Your Self

Hari ini iseng-iseng baca bukunya Dave Pelzer yang berjudul “Help Your Self” 😀 sepertinya emang upenk saat ini sedang membutuhkan pertolongan ya. Sedang mengalami kegawat daruratan psikologis, sepertinya… 😦

Okelah, saya cerita dikit soal buku ini..

“Help Your Self” ini bercerita tentang resiliensi. Secara singkat resilinensi merupakan ketahanan individu dalam menghadapi masalah. Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan secara detail bagaimana bentuknya resiliensi itu, perlu belajar lagi ya…

“Help Your Self” bercerita tentang bagaimana kita menjadi lebih tegar dan mampu menghadapi permasalahan duniawi dengan lebih baik. Ada 3 bagian yang ada di dalam “Help Your Self”. Pertama: Bebaskan diri dari “sampah” kehidupan, Kedua: Ketahui Apa yang Kamu Inginkan, Ketiga: Rayakan Siapapun Dirimu dan Apapun yang Kau Miliki. Bagian-bagian dari buku ini saling berhubungan satu sama lain. Jadi ketika kita ingin membaca bab 2 sebaiknya kita sudah membaca bab 1, dan ketika kita ingin membaca bab 3 sekailnya kita sudah membaca bab 2, dan bagi saya…ini sudah cukup menyusahkan karena saya hobi nya baca ga urut tiap bab. 😀

Pertama: Bebaskan Dirimu dari “Sampah” Kehidupan.

Tidak bisa dipungkiri, sepanjang kehidupan kita sudah menjumpai banyak sekali pengalaman hidup. Entah itu baik atau buruk. Tidak ada orang hidup yang hanya mengalami pengalaman baik saja, dan begitu pula sebaliknya, tidak ada orang hidup yang hanya menjumpai pengalaman buruk saja. Pengalaman-pengalaman itu konon kabarnya sangat mempengaruhi kehidupan kita di masa kini dan juga di masa datang. Memang betul juga pendapat tersebut. Bagi para penganut transpersonal, fraktal yang buruk muncul karena adanya akar yang buruk, dan fraktal itu adalah kejadian-kejadian masa kini yang tidak terselesaikan karena masa lalu yang tidak selesai.

Jelas, menyelesaikan masa lalu adalah suatu kewajiban. Emosi-emosi yang belum selesai akan mempengaruhi cara pandang dan perilaku kita dalam menghadapi masa kini. Emosi yang tidak baik itulah yang dinamakan “Sampah”.

Jadi…benar kan…kalau menyimpan sampah itu tidak baik. Bisa memmbusuk dan akan memunculkan penyakit. Tapi, lain halnya jika kita mampu mengolah sampah itu dengan benar, bisa juga jadi pupuk yang menyuburkan.. 😀

Kedua: Ketahui Apa yang Kamu Inginkan. Setelah membuang pengalaman-pengalaman buruk, lalu apa yang kita inginkan? Tidak ada? Itu tidak mungkin. Ada banyak alasan kenapa seseorang melakukan sesuatu. Bahkan gerak reflek pun dilakukan untuk suatu alasan bukan?

Mengetahui apa yang kita inginkan merupakan salah satu cara kita untuk membangun kekuatan. Tetapkan satu momen penting (tentunya yang baik, karena kita sudah membuang “sampah” pada bab pertama 😀 ). Kalau di NLP, bisa dibilang sedang mebuat anchor atau penjangkaran.

Ketiga: Rayakan Siapapun Drimu dan Apapun yang Kamu Miliki

Bahasa lainnya bab ini ya..gratitude, alias bersyukur. Kalau kita bersyukur, yakin deh dunia akan menjadi semakin terliha luas dan lapang. Ya memang bersyukur itu gampang gampang susah. Gampang ngomongnya, susah ngejalaninnya. Itu kenapa Tuhan menjanjikan banyak pahala buat orang yang bersyukur, soalnya susah sih… 😀

Oke, gitu aja cerita singkatnya tentang “Help Your Self”, untuk cerita panjangnya…nanti lah kapan-kapan ya…saya baca dulu bukunya 😀

Enjoy Your Sunday.. 😀

TEARS Part II

Seorang teman “tercinta” mengatakan kalau tulisan saya terlalu EMOSIONAL

“Apaan sih, dikit dikit nangis, dikit dikit ngeluh di blog, jadi aku berhenti mengikuti perkembangan blogmu sejak itu”

Yah…ndak bisa disalahin juga sih kalau dia sampai bilang begitu, lha wong kalo ditelusuri memang tulisan saya ini kebanyakan tentang misery, kesengsaraan, dan kesedihan yang seolah-olah terjadi bertubi-tubi dalam hidup saya.

Mungkin hidup saya memang tidak se-sengsara tulisan-tulisan saya. Mungkin saya yang lebai dan agak-agak hiperbola.

“Kalo mau eksis ya jangan yang sedih-sedih gitu, jangan sampai orang men-citra-kan dirimu menjadi sesuatu yang negatif”

Jika orang berpikir negatif tentang saya melalui tulisan-tulisan saya yang miserable, Jika orang berpikiran saya adalah orang yang lemah setelah membaca tulisan-tulisan saya yang hiperbola-nya ga ketulungan, maka kesalahan ada pada…(harus) Saya (ya?).

Saya memang tidak bisa se-TEGAR teman saya “tercinta” tersebut, yang hanya menulis saat dirinya merasa kuat dan tegar, yang hanya menulis saat dia merasa dapat membagi “ilmu yang benar-benar edukatif“- that’s why he doesn’t add any writing rite now 🙂

Saya memang kurang tegar, itu kenapa saya ingin selalu bersandar pada teman saya yang “tercinta”- meskipun dia berusaha mati-matian menghindari kebersandaran saya padanya 😀

Dan bodohnya lagi…saya tidak berusaha untuk membuat impresi yang baik agar orang terkesan terhadap saya melalui tulisan-tulisan yang saya buat.

Tapi, inilah saya, The Real Me, Sebenar-benarnya saya.

Bagi teman saya yang “tercinta” menulis kelemahan dirinya adalah sesuatu hal yang bisa dibilang TIDAK MUNGKIN

“kalau aku apdet status yang isinya kelemahanku, keluhanku, trus apa kata bosku nanti? nanti dia nggak percaya lagi sama aku”

Saya memang sedang tidak punya satu bos-pun, jadi tidak ada kekhawatiran seseorang yang betitel bos akan mendatangi saya dan tiba-tiba mencak-mencak karena status saya di fb maupun tulisan saya di blog mencerminkan ketidak-kompetensian saya dalam mengatasi masalah kehidupan.

Tapi terlepas dari itu semua, terlepas dari saya punya bos atau tidak, membicarakan perasaan secara terbuka melalui adalah salah satu keahlian saya. Merangkai kata yang membuat sebuah kalimat menjadi seolah-olah sangat menyengsarakan adalah hobi saya.  Membiarkan orang menerka apa yang sedang saya rasakan saat saya menuliskan keluhan adalah satu kemampuan saya.

Itu karena saya tergolong lemah dalam ekspresi verbal. Mengungkapkan perasaan dalam kata-kata lisan, adalah kelemahan saya.

Jadi jika saya menjerumuskan diri dan mempermalukan diri dalam tulisan yang penuh dengan kelemahan,  maka saya menjadi saya dan bukan menjadi orang lain, dan bukan sedang menjadi teman saya yang “tercinta” tersebut.

Karena inilah SAYA 😀

Tears

Rasanya sangat ingin menangis. Saat semua kelelahan bertumpuk. Saat semua kepenatan menyatu.

Rasanya sangat ingin betumpu pada bahu kokoh. Menceritakan semua yang terjadi hari ini pada hati yang lapang.

Saat semua hal serasa bagai tembok yang menghimpit. Berada di sisi seseorang adalah sebuah kelegaan yang luar biasa.

I wish you were here..

Run…Run…

Kereta ini bergerak maju

Tidak melambat dan tidak berhenti

Jika ingin bersamaku maka kau harus lebih cepat dariku

Turunlah di pemberhentian berikutnya lalu naiklah keretaku

Maka kau akan satu gerbong bersamaku

Kecuali jika kau memilih kereta lain yang membawamu ke tujuan yang tidak sama denganku

Itu bukan masalah bagiku

Karena masing-masing kita punya tujuan yang tidak bisa dipaksakan

Sebuah TUJUAN

Hentikan keretamu jika kau tidak tahu kemana arah tujuannya

Karena inilah keretaku …Inilah kehidupanku

dan karena…

Itulah keretamu…Itulah kehidupanmu

Keretaku tidak berhenti

Hingga tiba di tujuannya

Keretaku bergerak cepat…

Berlarilah agar dapat mengejarku…

Bergeraklah lebih cepat dariku, maka kau akan menyamai langkahku

If It Kills Me

Tidak menyangka, ternyata saya masih memiliki energi merusak yang luar biasa. Tidak saya sadari, tapi ternyata ada.

Dulu waktu masih sekolah, saya sering menggunakan energi ini untuk mengintimidasi orang-orang di sekeliling saya. Memaksa mereka untuk mengikuti apa yang saya katakan, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Energi ini berwujud menjadi emosi marah dan muncul dalam perilaku yang “menyeramkan”.  Mulai dari melotot, meninggikan intonasi suara, menggebrak meja, sampai suatu ketika membanting kursi.

Saat masih sekolah, saya melakukannya hampir tiap hari, terutama saat mahkamah selepas maghrib. Saya akan memastikan suara saya yang paling kenceng dan gebrakan meja saya paling kuat. Energi terkuras, tapi saya lega…paling tidak…sedikit orang yang mau kembali berhadapan dengan saya di mahkamah (itu bukti kalau saya paling galak, bukan paling kuat… :D).

Lulus sekolah, kebiasaan ini kadang masih terbawa-bawa. Masih dengan tujuan mengintimidasi orang lain plus melegakan diri sendiri. Sebisa mungkin saya mengendalikan energi merusak dari dalam diri,  tapi tetap saja mrucut. Puncaknya ketika suatu saat TV di rumah mbruwet, waktu itu angin sangat kencang sehingga antena di luar menjadi agak menceng. Sebal karena tidak bisa menikmati acara televisi dengan baik, saya keluar dan menendang tiang antena sampai jadi semakin menceng, akhirnya malah nggak bisa melihat TV sama sekali karena gambarnya tambah mbruwet dari sebelumnya. Malam itu saya tidur sambil membawa rasa  nggondok yang bertumpuk-tumpuk.

Saat kuliah, energi ini masih tetap ada meskipun muncul dalam letupan-letupan kecil. Perilaku yang muncul mungkin tidak seberapa merugikan dibandingkan perilaku-perilaku saya sebelumnya. Kali ini perilaku yang muncul saya samarkan, pura-pura nggak sengaja jatuhin gelas padahal sebenernya lagi banting gelas, pura-pura ga sengaja jatuhin termos padahal sebenarnya sedang banting termos, pura-pura jatuhin roll kabel padahal sebenarnya banting roll kabel. Pernah saking jengkelnya pada suatu hal, saya pura-pura “membalik” rak buku, padahal….

Semakin besar (angka umur saya), saya belajar untuk mengendalikan energi saya yang menghancurkan ini. Mempelajari ilmu-ilmu maknawi yang semakin membesarkan kesadaran saya. Mengendalikan emosi negatif dan mengembangkannya menjadi energi besar yang berdaya guna positif. Pura-pura “menjatuhkan” sesuatu tidak lagi saya lakukan (maksudnya : tidak sering saya lakukan). Frekuensi sangat jarang, mungkin hanya sekali dalan setahun, itupun dengan kekuatan yang tidak begitu besar.

Tapi malam ini berbeda, emosi negatif yang sudah saya simpan baik-baik akhirnya meletup keluar. Seperti kotak pandora yang berisi sihir kuno yang mengeluarkan setan-setan jahat saat kita membukanya. Energi ini keluar, membentuk sebuah perilaku membanting pintu, berteriak, dan berkata kasar. Saya melakukannya lagi…Merasakan sensasi ini lagi…

Ternyata saya masih memiliki energi ini, energi merusak yang sangat besar.

Ternyata saya menyukai saat melepaskannya dengan kasar…tanpa sopan santun…atau basa-basi… persis seperti preman

Mungkin itu drive saya, menjadi preman atau pelaku anarki dan vandalisme 😀

hanya Tuhan yang tahu kenapa saya tidak terlibat premanisme…

Energi merusak ini, yang pada akhirnya muncul sebagai emosi negatif dengan wujud kemarahan, kesedihan, dan kejengkelan.

Mungkin tidak terasa jika saya menimbunnya, tapi saya tahu dengan pasti bahwa ini adalah benalu. Menghisap energi kehidupan yang saya miliki dan saya jaga dengan hati-hati. Dan jika saya tidak waspada, mungkin energi inilah yang akan membunuh saya suatu hari nanti. Jika itu terjadi, maka itu bukanlah kematian yang wajar, tapi sebuah bunuh diri yang direncanakan.

Kemarahan Membakar Kehidupan seperti Api Membakar Kayu dan Menjadikannya Abu

Bukan rahasia, jika seseorang menyerah pada energi negatif dan membiarkan energi tersebut berkembang dalam kehidupannya maka itu adalah isyarat tidak langsung penyerahan diri terhadap kematian yang tidak terhormat. Proses kematian yang panjang, perlahan-lahan dan menyakitkan.

Energi itu akan menggerogoti kekuatan bertahan hidup, dan membuat kita mayat hidup. Bergerak, tapi tidak memiliki ruh.

Lalu apalagi yang lebih menyakitkan dari kematian?

Mungkin saya tidak dalam kapasitas menasehati, tapi tentunya saya memiliki hak untuk mengingatkan diri saya sendiri.

Saya memiliki hak untuk belajar mengelola energi saya yang sangat besar ini menjadi sesuatu yang lebih berguna, bagi diri saya atau untuk orang lain. Tidak mudah, tapi saya tidak mau mati sia-sia atau dicap sebagi orang yang tidak menghormati kehidupan yang telah diberikan Tuhan dengan baik ini.

Energi ini, mungkin akan selalu ada. Tapi saya tidak akan membiarkannya menguasai diri saya terlalu lama.

Kehidupan ini terlalu indah untuk saya rusak, bukan?


%d bloggers like this: